Puisi – Terima Kasih

#118

Terima kasihku

tuk luka yang menganga

tuk janji yang tak ditepati

tuk derita yang tak kenal musim.

darimu aku belajar,

tak semua kata mesti diselami

tak semua ikrar mesti diamini

tak semua rasa mesti diresapi

Sebab aku salah

telah menitip asa dan rasa pada pengkhianat

Aku benci bukan dendam

Aku benci sebab telah berani membuka pintu hati untukmu

Sementara kini, kau pergi dengan tawa riang

lalu berlari kecil bersama dia yang kau pilih

Aku muak dan tak sudi menatap sepasang matamu lagi

sungguh aku benar-benar sangat menyesal.

Tapi tetap kuucap terima kasih tuk goresan luka itu

sebab karenamu sepenggal puisi ini lahir.

Terima kasih, pengkhianat!

Terima kasih.

Iklan

Puisi – Lepas

#117

Tak berbekas

Tak terkenang

Tak tertulis

Tak berhinggap

Tak terangkai

Tak terungkap

Tak terusik

Menutup erat jangkauan

Demi bayang yang tak pantas mengiringi

Demi kesemuan yang tak jua jelas

Demi duri yang menancap tajam

Demi riuh suara yang berbisik lirih

Demi nafas yang tak berupa

Lelap dalam bisu.

Menjemput Titik Terang

#116 Hari ini saya menyempatkan waktu bersama teman ke salah satu gramedia untuk membeli buku. Buku yang saya incar-incar ialah buku karya salah satu youtuber muda Indonesia yang sebentar lagi kisah hidupnya dalam buku itu akan difilmkan. Saya memang sudah hampir setahun belakangan ini sangat mengikuti perkembangan dia dari tulisan di blognya, videonya di Youtube dan aktifitasnya di Instagram sehingga semua hal itu membuat saya semakin penasaran dengan bukunya. Sebenarnya sekitar beberapa bulan belakangan ini saya memang sangat ingin membeli buku itu tapi yah lagi ngumpulin uang berhubung kebutuhan hidup bukan hanya itu hehe. Tiba di gramedia, saya tentu langsung menuju tempat mencari informasi buku dan mengetik judulnya di salah satu komputer dan saya bahagia karena ternyata bukunya ada. Selama ini saya pikir bukunya sudah tidak ada lagi. Tanpa berpikir panjang, saya langsung mencari lalu memegang bukunya karena memang ingin membelinya tetapi ternyata setelah lirik sana sini buku-buku yang ada sekitar setengah jam lebih, malah saya kepincut dengan salah satu buku (semacam tiba-tiba jatuh cinta gitu) hehehe.

Tapi saya tentu akan tetap membeli buku incaran itu, mungkin bulan depan dan saya yakin buku itu masih ada di gramedia berhubung buku ini menjadi salah satu buku yang sebagian orang merekomendasikan untuk dibaca karena kisahnya inspiratif apalagi sebentar lagi akan difilmkan. Saya rasa buku yang akan difilmkan tentu akan membuat sebagian orang semakin penasaran. Untuk buku itu, tunggu saya akan memilikimu (begitu kata saya dalam hati saat memutuskan mengembalikannya di rak buku) walau sebenarnya berat. Tapi hidup harus selalu memilih. Saya harus konsentrasi membaca satu hal lalu hal lain lagi supaya pikiran saya tidak dipenuhi tumpukan kata-kata. Hahaha. Lagi-lagi hidup penuh pilihan dan saya telah memilih buku yang baru saya temui itu.

Buku itu berjudul Life By Design (Hidup Bahagia dan Sejahtera dengan Terencana) ditulis oleh Darmawan Aji. Sudah lama buku yang saya baca tidak begitu mempengaruhi diri saya (bukan bukunya yang salah sih, mungkin pikiran dan hati saya belum terbuka selama ini). Tapi dengan buku ini saya akan coba untuk menggali informasi yang bisa diterapkan dalam hidup saya. Saya membeli buku ini karena merasa sedang terombang-ambing di tengah lautan kehidupan hihihi lebay yah. Sepertinya memang saya sedang membutuhkan suntikan semangat yang tentu harus saya jemput. Mungkin salah satu caranya dengan mencari buku yang tepat untuk dibaca. Semoga buku ini dapat memberi satu titik terang untuk kehidupan saya ke depan. Jikapun tidak, tentu saya akan terus mencari titik terang itu demi hidup yang lebih baik. Harapan baik tentu harus selalu ada dalam diri.

Sebab bahagia itu harus dicari dan dijemput. Bukan hanya menunggu karena menunggu tanpa bergerak maju ialah hal yang sia-sia.

Menengok Kembali Asian Para Games 2018

#115 Setelah berakhirnya Asian Para Games 2018 beberapa hari yang lalu, ada banyak hal membuat saya belajar terutama menyadari bahwa keterbatasan fisik bukanlah menjadi penghalang untuk berprestasi. Manusia diberi akal dan hati demi menghalau segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Menurut saya hal itu hebat, di tengah sebagian orang dengan organ tubuh fisik yang lengkap dan sehat masih belum menggunakan semaksimal mungkin potensi mereka tetapi di luar sana ternyata ada orang-orang hebat yang mampu menunjukkan kemampuan dirinya. Saya kembali mengintrospeksi diri sendiri untuk bersyukur atas pemberian Tuhan dan kembali menjangkau asa demi meraih cita-cita yang diinginkan. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak? Begitupun dengan kalian.

Terima kasih untuk kalian yang telah menginspirasi dan teruslah bersinar di tengah redupnya harapan dalam hidup ini. Sungguh tidak ada batasan selama kita percaya bahwa Tuhan Maha Segalanya.

Terima kasih sekali lagi untuk para atlet Asian Para Games yang telah berjuang demi mengharumkan nama bangsa dan negara masing-masing dan juga kepada seluruh pihak yang telah membuat mereka percaya bahwa mimpi itu bisa jadi nyata.

Kapan…?

#114 Pertanyaan dimulai dengan kata “kapan…” ini telah menjadi kebiasaan tersendiri di lingkungan masyarakat kita. Entah nanya kapan kuliah, kapan nikah, kapan wisuda atau kapan kerja atau sederetan pertanyaan diawali kata kapan yang sejak dahulu sudah menghantui kehidupan kita ini. Saya pun terkadang menanyakan itu ke orang yang saya kenal setelah sekian lama tidak bertemu, walau saat ini saya mulai menguranginya karena merasa selalu ada pilihan lain untuk berbasa-basi daripada sekadar menanyakan hal seperti itu walau kadang keceplosan juga sih hahaha. Namanya juga proses, kebiasaan kan tidak bisa diubah semudah membalikkan telapan tangan. Yang penting harus tetap usaha menahan diri untuk tidak bertanya hal itu. Semacam puasa aja nih hihihi 😂😂

Oh iya, sederhana saja nih, saya mau tahu pendapat teman-teman, kenapa sebagian orang terbiasa menanyakan hal-hal yang boleh dibilang bersifat pribadi dimulai dengan kata “Kapan..”? Apakah memang sebagian dari kita miskin berbasi-basi dengan hal lain atau memang sebenarnya kebiasaan itu telah terjadi sejak dahulu kala? Menurut kalian gimana atau bagaimana pengalaman kalian sendiri saat menghadapi situasi itu dicerca pertanyaan demi pertanyaan?

Terima kasih sudah berbagi 😉😉

#113 Kepada Z: Menantimu

Menantimu bagai

aliran air yang entah bermuara sampai mana

menghitung detik yang tak tahu kesudahannya

meniti angan yang entah akan berwujud apa

di ujung lelahku, aku menantimu

menerka-nerka serupa apa rautmu

lalu sesuci apa hatimu

Aku masih menantimu

kelak jika dunia ini mempertemukanku denganmu

aku berjanji akan selalu mencintaimu

sesenang dan sesulit apapun kondisi kita

Aku ingin menjemput ridhoNya dengan menjagamu sepenuhnya hingga maut memisahkan raga kita

Z, aku masih menantimu meski di ujung lelahku.

Smg kau baik-baik saja dimanapun itu

Sampai jumpa, Z.

Aku masih disini. Menunggumu.

#112 Sulit Bahagia

Sederhana saja. Bahagia itu bica diciptakan sendiri. Belajar lebih kuat menghadapi kehidupan yang fana ini. Menengok masa lalu sebagai bahan pembelajaran boleh saja untuk lebih baik ke depannya tapi tidak melulu terpaku dengan masa itu. Fokuslah untuk kehidupan yang lebih berkualitas hari ini demi masa depan yang lebih indah. Semangat, kawan!

Sumber gambar : akun instagram @motivasial